Lewati ke konten

PENGGUNAAN APLIKASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE CREATIVE HEALTH(AICH) DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING BERBASISTEORI HEALTH BELIEF MODEL PADA KADER POSYANDUDI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARUSU

Muhammad, Syabina Hasana (2025) PENGGUNAAN APLIKASI ARTIFICIAL INTELLIGENCE CREATIVE HEALTH(AICH) DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING BERBASISTEORI HEALTH BELIEF MODEL PADA KADER POSYANDUDI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARUSU. Masters thesis, Universitas Muslim Indonesia.

[thumbnail of 14120210126_HALAMAN_SAMPUL_121125102505.pdf] Text
14120210126_HALAMAN_SAMPUL_121125102505.pdf

Download (132kB)
[thumbnail of 14120210126_DAFTAR ISI.pdf] Text
14120210126_DAFTAR ISI.pdf

Download (162kB)
[thumbnail of 14120210126_ABSTRAK_121125102522.pdf] Text
14120210126_ABSTRAK_121125102522.pdf

Download (168kB)
[thumbnail of 14120210126_BAB_I_121125102503.pdf] Text
14120210126_BAB_I_121125102503.pdf

Download (166kB)
[thumbnail of 14120210126_BAB VI.pdf] Text
14120210126_BAB VI.pdf

Download (164kB)
[thumbnail of 14120210126_DAFTAR_PUSTAKA_121125102515.pdf] Text
14120210126_DAFTAR_PUSTAKA_121125102515.pdf

Download (141kB)

Abstract

Health Belief Model (HBM) adalah salah satu teori yang paling banyak digunakan dalam penelitian kesehatan masyarakat untuk memahami dan memprediksi perilaku kesehatan individu. Dikembangkan pada tahun 1950-an oleh psikolog sosial Godfrey Hochbaum, Irwin Rosenstock, dan Stephen Kegels, teori ini menjelaskan bagaimana persepsi individu terhadap ancaman penyakit dan manfaat tindakan pencegahan memengaruhi keputusan mereka untuk berperilaku sehat. Health Belief Model adalah sebuah konsep yang mengungkapkan alasan mengapa
individu ingin atau tidak melakukan perilaku sehat (Janz & Becker, 1984).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku kader Posyandu dalam menggunakan aplikasi Artificial Intelligence Creative Health (AICH) sebagai upaya pencegahan stunting berdasarkan Teori Health Belief Model (HBM). Latar belakang
studi ini mencerminkan kekhawatiran atas tingginya angka stunting, khususnya di Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Peran kader Posyandu dinilai penting dalam deteksi dini stunting, namun seringkali terbatas oleh minimnya
pelatihan, alat bantu teknologi, serta kepercayaan diri.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, melibatkan 22 kader Posyandu sebagai sampel dari 123 kader yang tersebar di 22 posyandu. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang mengukur enam komponen HBM: perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceivedbarriers, cues to action, dan self-efficacy.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi AICH
berkontribusi positif terhadap pemahaman kader mengenai risiko dan dampakstunting, serta meningkatkan motivasi mereka dalam upaya pencegahan. AICHmenyediakan fitur edukasi digital, chatbot kesehatan, dan pencatatan data yang mempermudah tugas kader. Meski demikian, tantangan seperti keterbatasan literasi digital dan akses teknologi tetap menjadi hambatan utama.
Kesimpulannya, aplikasi AICH mampu menjadi alat bantu efektif bagi kader Posyandu dalam meningkatkan efektivitas promosi kesehatan, terutama jika didukung pelatihan berkelanjutan dan intervensi berbasis teori perilaku. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan teknologi berbasis AI sebagai strategi inovatif untuk menurunkan angka stunting secara nasional.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: R Medicine > RA Public aspects of medicine > RA0421 Public health. Hygiene. Preventive Medicine
Divisions: FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT > KESMAS
Depositing User: Admin Admin
Date Deposited: 19 Jan 2026 01:00
Last Modified: 19 Jan 2026 01:23
URI: http://192.168.168.84/id/eprint/7800

Actions (login required)

View Item View Item